detiklgminews.co – Ketua Umum Lembaga Garuda Muda Indonesia ( LGMI ) mendukung Pemerintahan Presiden Ir. H. Joko Widodo menuju kesejahteraan Bangsa Indonesia, dalam situasi perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia kedepan memerlukan Kepemimpinan yang hadal dalam mengemban suatu amanah kedaulatan rakyat Indonesia sepenuhnya.

Kepemimpinan Pemerintahan Presiden Ir. H. Joko Widodo untuk kelanjutannya diperlukan tokoh yang mengetahui strategi dalam situasi pertahanan keamanan demi bangsa dan negara untuk pemerintahan yang aman, nyaman dan sejahtera. Yaitulah Jenderal Purnawirawan Dr. H. Moeldoko patut untuk mengemban amanah tersebut di atas sebagai pendamping Presiden Ir. H. Joko Widodo yang akan datang.

Tongkat Kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo, patut ada pilihan lain yaitu Mantan Panglima TNI  Jenderal Purnawirawan Dr. H. Moeldoko untuk cawapres yang akan datang. Kondisi Indonesia terkini jangan disamakan dengan Indonesia pada jaman orde baru, pasca reformasi tahun 1998. Peta perpolitikan di Indonesia sudah berubah, mungkin yang tepat adalah istilah geopolitik yang menurut Frederich Ratzel (1844–1904) negara itu seperti organisme yang hidup. Negara identik dengan ruangan yang ditempati oleh sekelompok masyarakat (bangsa). Pertumbuhan negara mirip dengan pertumbuhan organisme yang memerlukan ruang hidup yang cukup agar dapat tumbuh dengan subur. Semakin luas ruang hidup maka negara akan semakin bertahan, kuat, dan maju. Oleh karena itu, jika negara ingin tetap hidup dan berkembang butuh ekspansi (perluasan wilayah sebagai ruang hidup).

Teori ini dikenal seabgai teori organisme atau teori biologis, dimana suatu Negara diibaratkan sebagai suatu organisme yang hidup dan berkembang. Nah kenapa Teori Geopolitik ini menurut saya cocok, ya karena situasi Indonesia sekarang sudah jauh berbeda dengan Indonesia yang dulu atau 20 tahun lalu bahkan sepuluh tahun lalu, Indonesia berubah sejak merdeka tahun 1945 Indonesia sedang mencari bentuknya dari demokrasi terpimpin dan setengah otoriter di jaman Soekarno, lalu menjadi demokrasi Pancasila di jaman Soeharto yang dikenal dengan istilah order baru, kemudian era reformasi yang menandakan jaman baru demokrasi di Indonesia. Selain perubahan dari dalam ada juga perubahan-perubahan yang ditimbulkan dari luar. Perubahan ini baik dari dalam maupun dari luar tidak selalu baik, bahkan ada yang mengancam berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Negeri yang terdiri dari bermacam-macam suku, agama dan budaya yang disatuka dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ikanya. Ancaman yang nyata yaitu adanya infiltrasi ideology Transnasional yang berbalut agama yang sudah menyebar dan mengakar selama 10 tahun belakangan ini. Organisasi transnasional yang anti Pancasila dan ingin mendirikan Negara berbasis agama tersebut, sudah sangat menghawatirkan dan sudah sangat merasuk dan mengakar dalam masyarakat bahkan sudah memasuki dunia pendidikan dan institusi Negara seperti kantor-kantor pemerintahan dan Universitas-universitas. Kondisi Indonesia sekarang yang sedang mengalami proses demokrasi dan sedang diserang oleh ideology Transnasional yang ingin mendirikan Negara berdasarkan agama itu tentu saja sangat menyulitkan pemerintah dalam hal ini Presiden Ir. H. Joko Widodo memerlukan wakil dengan latar belakang yang kuat dan tentu saja setia pada pemerintah, Pancasila dan NKRI.

Sosok yang muncul bukan merupakan sosok yang asing, beliau pernah menjabat sebagai Panglima TNI, sosok yang tenang dan berwibawa, tegas dan setia kepada pemerintah. Siapa beliau? Beliau adalah Moeldoko, seorang Purnawirawan Jendral bintang empat, pernah menjabat sebagai Panglima TNI. Kenapa Moeldoko cocok sebagai Wakil Presiden mendampingi Ir. H. Joko Widodo?

Diawal tulisan sudah disinggung bahwa kondisi geopolitik Indonesia yang berkembang dan perkembangannya sangat menghawatirkan karena sedang tumbuhnya ideology transnasional yang anti Pancasila dan ingin merubah NKRI yang berlandaskan Pancasula menjadi Negara berdasarkan agama, dalam kondisi seperti sekarang ini Indonesia dalam hal ini Presiden Ir. H. Joko Widodo memerlukan wakil atau patih atau bisa juga disebut mahapatih yang sekaliber dengan Mahapatih Gadjah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapanya itu, sang Mahapatih haruslah sosok yang kuat dan sosok dari kalangan militer merupakan pilihan yang tepat. Selain dari jaringan militer yang dimilikinya juga disiplin dan ilmu strategi militernya sangat diperlukan dalam kondisi Indonesia sekarang. Terutama dalam mengawal Nawacita yang sedang diperjuangkan oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo sang pekerja keras. Bagi Presiden Ir. H. Joko Widodo biarlah dia yang bekerja membangun negeri ini sebagaimana layaknya seorang Insinyur, dan mahapatih bertugas mengawal dan memastikan bahwa Presiden Ir. H. Joko Widodo bisa bekerja dengan tenang tanpa direcoki oleh masalah keamanan dan ketertiban.

Kisah hidup Moeldoko cukup berliku, dia berasal dari keluarga kebanyakan bahkan bisa dibilang kekurangan, Ia lahir di Kediri di desa Pesing, Purwosari,Jawa Timur 8 Juli 1957, ia adalah anak bungsu dari 12 bersaudara, anak dari Bapak Moestaman dan Ibu Moestamah seorang pedagang kecil dengan penghasila tidak menentu, dari kecil Ia sudah rajin tirakat (puasa) Senin dan Kamis. Saat masih sekolah ia sangat rajin bekerja, bahkan rela bekerja mengangkut pasir dan batu dari sungai, semua dilakukannya untuk menambah penghasilan orangtuanya. Bisa dibilang Ia memang seorang pekerja keras, tidak heran karirnya di dunia militer juga sangat mulus, masuk Akademi Militer pada tahun 1977, dan lulus pada tahun 1981 dengan memperoleh penghargaan Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik. Karirnya di Militer sangatlah mulus dan banyak memperoleh bintang penghargaan atau tanda jasa, pengalaman tempurnya jangan diragukan banyak operasi militer sudah dilaluinya mulai dari Operasi Seroja di Timor-Timur tahun 1984, kemudian ditugaskan sebagai Pasukan Garuda untuk misi di Kongo tahun 1995, dan sempat ditugaskan ke Selandia Baru, Jepang, Singapura, Kuwait, Irak, hingga Kanada dan Amerika Serikat. Riwayat memimpin territorial pun pernah beliau rasakan sebagai Panglima Kodam XII Tanjungpura tahun 2010 dan Panglima Kodam III Siliwangi.Kemudian Ia diangkat sebagai Kepala Staff Angkatan Darat (KSAD) pada saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden. Kemudian puncak karirnya yaitu saat dipercaya sebagai Panglima TNI menggantikan Agus Suhartono.

Selain dalam ilmu kemiliteran Moeldoko juga seorang pembelajar terbukti dari diraihnya gelar Doktor Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia pada tahun 2014.

Sebagai organisme yang hidup NKRI sangat dinamis dan kesehatannya sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur baik dari luar maupun dalam negeri. 30 Tahun terbelenggu dimasa orde baru menyebabkan pola pikir rakyat terhadap demokrasi bisa dikatakan sangat terbelakang euphoria demokrasi sangat dirasakan saat reformasi dan pasca reformasi bahkan sepuluh tahun setelah reformasi, demokrasi Indonesia memang sedang mencari bentuknya, dalam proses mencari bentuk itu, masuklah faham-faham atau ideology dari luar, yang menyebar secara senyap membentuk sel-sel kecil yang semakin membesar karena ideology ini terbalut dalam agama mayoritas, euphoria demokrasi dibumbui dengan romantisme agama membuat ideology ini semakin berkembang. Ormas keagamaan mainstream yang sudah mapan seperti Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah tersentak kaget saat menyadari bahwa di kalangan akar rumput masa mereka sudah membelot dan mengikuti faham radikal ini. Faham transnasional ini sudah menjadi rahasia umum didanai oleh luarnegeri dengan dana tak terbatas, mereka mempunyai banyak sumber-sumber dana yang tidak bisa diremehkan kekuatannya. Aksi demo bergelombang contohnya, jika tidak ada penyandang dana mana mungkin mereka bisa menarik begitu banyak masa.

Dalam kondisi dan situasi seperti ini Joko Widodo yang kerap dibilang Presiden boneka dan penakut menunjukan taringnya, dengan membubarkan organisasi berfaham ideology anti Pancasila itu dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang. Masalahnya sel-sel organisasi ini sudah menyebar kemana-mana, mulai dari RT/RW sampai ke institusi pendidikan,, bahkan sudah merasuk ke instansi pemerintah dimana banyak sekali para PNS/ASN yang merupakan simpatisan dari ideology ini. Ormas yang sudah dilarang inipun nampaknya semakin kalap dan terus mencoba berbagai macam strategi untuk menghancur NKRI. Donaturpun terpana atas keberanian Joko Widodo ini, mereka yang bisa saja berasal dari luar negeri maupun dalam negeri tentu saja tidak akan tinggal diam dan berusaha merong-rong pemerinthan ini. Jangan sampai Joko Widodo terpilih lagi itu slogan konyol mereka.

Kondisi ini tentu saja tidak mudah, Joko Widodo dengan karakternya sebagai pekerja keras yang tekun bekerja untuk mewujudkan Nawacitanya tentu saja tidak bisa bekerja dengan tenang bila selalu dirongrong oleh para akitivis ormas terlarang dan para politisi oposan yang suka nyinyir itu. Dia perlu seorang mahapati yang satu visi dan misi dengan nya. Dengan kebijaksanaan seorang militer dan analisa tajam seorang ilmuwan tentu saja Moeldoko sangat memenuhi syarat itu semua.

Terbukti saat Ia menjabat sebagai Kepala Staff Kepresidenan, semua hal-hal negative yang selalu menyerang pemerintahan dengan mudah di skak mat nya. Tentu saja dengan data dan ketegasannya, hal inilah yang diperlukan oleh Joko Widodo agar dia bisa berkonsentrasi membangung bangsa ini.

Tentu saja kemajuan dan percepatan pembangunan yang dicapai oleh Joko Widodo membuat para oposisi menjadi meradang dan malu tidak mau mengakui keberhasilan ini. Tetapi tidak perlu kawatir Moeldoko itulah jawabannya, bisa dilihat dan dianalisa semenjak Ia menjadi Kepala Staff Kepresidenan, suara-suara sumbang mulai diredam, dengan perhitungan yang matang Ia mulai melakukan langkah-langkah kudanya untuk mengamankan pemerintahan ini, tentu saja tanpa kepercayaan dari Joko Widodo tidak mungkin itu terjadi. Dengan kepiawaiannya Moeldoko berhasil melakukan pengendalian program-program strategis pemerintah, melakukan komunikasi politik dan mengelola isu-isu strategis. sangat layak menjadi Wakil Presiden mendampingi Joko Widodo untuk melanjutkan pembangunan bangsa ini. Pembangunan yang selama 30 tahun dibonsai menjadi stunting tidak bisa berkembang, tiga tahun Joko Widodo memimpin negeri ini, sudah mulai terlihat bahwa Indonesia ternyata bisa menjadi bangsa besar yang ditakuti semua pihak. Dan itu tentu saja sangat menakutkan bagi pihak luar yang berkempentingan dengan perekonomian Indonesia.

Joko Widodo telah membuktikan dengan Nawacitanya dia berhasil membangun negeri ini, dengan revolusi mentalnya dia telah banyak membuat tikus-tikus berdasi terpental dan sakit hati kepadanya, tidak ada lagi oli pembangunan mengucur kepada badut-badut politikus digedung yang terhormat sana, mereka semua mulai kelihatan aslinya hidup dari uang rakyat tapi masih saja melakukan korupsi. Kasus e-ktp membuktikan keseriusan pemerintah untuk menghancurkan akar permasalahan korupsi di Indonesia yaitu mental manusianya, dengan efek jera diharapkan para koruptor akan menjadi jera.

Dengan ketenangannya dan wawasannya yang luas, Moeldoko adalah sosok yang akan menjadi Mahapatih dan berduet bersama Joko Widodo memenuhi cita-cita Gadjah Mada, menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia yang disegani oleh seluruh bangsa didunia, dengan Pancasila sebagai dasar Negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai pedoman hidup. Bersatu dalam perbedaan, terus maju bersama menuju kesejahteraaan seluruh rakyat Indonesi.

Berikan komentar