SUKOHARJO – Dalam rangkaian kegiatan safari politiknya di Kabupaten Sukoharjo, Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah berdialog dengan anak – anak muda Soloraya pegiat media sosial yang lazim disebut netizen.

Banyak topik terkini dibahas dalam suasana cair yang dikemas dengan tema Netizen Ngopi Bareng Fahri di Wedangan Omah Kayu, Sapen, Mojolaban, Minggu (15/4/3018) malam.

Mulai soal Hastag 2019 Ganti Presiden hingga tak kunjung tuntasnya penanganan membanjirnya narkoba yang nyata – nyata mengancam generasi muda Indonesia.

“BNN merilis tentang bahayanya penggunaan narkoba dikalangan anak muda. Bahkan lebih berbahaya dari bom Hiroshima dan Nagasaki yang telah membunuh ratusan jiwa. Bayangkan saja, 1 ton narkoba bisa membunuhnya 5 juta nyawa.”kata Fahri.

Selain Fahri, turut serta di acara tersebut Fadli Zon yang juga Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi Gerindra dan Ketua Penghayat Kepercayaan Indonesia, Sri Eko Galgendu.

Dikesempatan itu juga muncul pertanyaan tentang maraknya Hastag 2019 Ganti Presiden. Dengan lugas Fahri memberi gambaran atas fenomena munculnya hastag tersebut dikarenakan masyarakat sudah bisa menilai pemimpinnya.

“Kalau mau bahas ini, pakai ilmu orang solo atau orang sumbawa? Saya kira memang ada persoalan di tim pak jokowi. Kita bicara secara terbuka, karena ini negara demokrasi. Karena dulu di jaman orde baru kita gak boleh mengkritik.”katanya

Kalau pakai kultur orang Sumbawa, lanjut Fahri, Presiden Jokowi banyak kelemahan, tapi bahayanya orang-orang disekitarnya tidak bisa memperkuat kepercayaan (condifent) dalam menjawab permasalahan yang ada.

“Tidak ada yang berani memberikan advice untuk menjadi betul-betul tegap dan kuat. Rata rata cuman muji – muji aja, tidak berhasil melakukan auto corection,” sebut Fahri

Fahri pun mencoba menggali ingatan netizen yang hadir tentang bebagai janji-janji Jokowi. Mulai buy back Indosat hingga ekonomi meroket yang tidak pernah ada penjelasan kepada ke rakyat yang dijanjikannya.

“Yang ditagih oleh rakyat nanti adalah janji dia. Kan dia pernah janji dan janji itu ter-record. Bahkan dalam salah satu pasal dalam UU Kebohongan Publik adalah apabila pejabat negara menjanjikan sesuatu dan tidak dipenuhi kepada rakyatnya, bisa masuk dalam pasal kebohongan publik.”tandasnya

Sementara, Sri Eko Galgendu, menyampaukan dirinya sangat mengapresiasi dengan kalangan netizen yang mayoritas anak – anak muda ini.

“Fahri yang biasa terlihat di media televisi terkesan garang ternyata pribadinya sangat terbuka. Dia begitu cair, sehingga memberi kesan begitu dekat dengan anak – anak muda yang hadir.”kesan Eko

Menurutnya, Ini merupakan pendidikan politik yang baik bagi generasi generasi muda dialam keterbukaan. Jadi seorang pimpinan itu tidak boleh anti kritik untuk membangun bangsa. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here