KARANGANYAR- Seratusan warga terdiri lintas agama dan kepercayaan berasal dari Soloraya dan sekitarnya menggelar upacara do’a bersama dalam prosesi agung, Minggu (4/3/2018) malam. Upacara dilakukan di puncak Candi Cetho (Candi Hindu), Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Salah satu peserta perwakilan dari agama Hindu, Ida Bagus komang Suarnama menyampaikan, keterlibatan umat Hindu dalam upacara ini merupakan bagian dari dukungan terhadap ajaran cinta kasih kepada sesama manusia dan agama budi pekerti.

“Kebetulan Hindu itu sekarang kan awatara Buddha ke sembilan dengan ajaran tentang cinta kasih, welas asih, berkaitan dengan budi pekerti. Jadi kami setuju sekali dengan konsep agama budi pekerti agar di uri – uri ( dilestarikan),” kata Ida yang juga Ketua Parisada Hindu Dharma Kota Surakarta

Untuk sebuah tujuan kebaikan, Ida pun mengaku pihaknya sering diajak terlibat kegiatan bersama dengan lintas agama dan penghayat kepercayaan.

Ketua Penghayat Kepercayan Indonesia, Sri Eko Galgendu penggagas acara menyebutkan, prosesi di Candi Cetho merupakan bagian dari kegiatan pendukung upacara puncak yang nanti akan dilaksanakan secara besar dan agung di Candi Borobudur.

“Di Borobudur nanti merupakan suatu penyatuan. penyatuan hati, pikiran dan spiritual. Bagi kami, itu bukan jiwa saja yang disatukan tapi penyatuan kami yang berawal dari satu bumi yang disatukan kembali,” jelasnya

Maka upacara do’a bersama lintas agama dan kepercayaan dalam prosesi agung di Candi Cetho ini menurut Sri Eko, memiliki nilai yang luhur dan agung. Hal itu dibuktikan dengan kehadiran perwakilan umat Budha dari Palembang, Sumatera Selatan ikut berdo’a di pura yang dikenal sebagai tempat sembahyangnya  umat Hindu.

Dalam upacara do’a bersama tersebut juga turut dibawa sesaji atau ubo rampe yang berasal dari unsur alam diantaranya, ketela rambat, singkong, kacang tanah, jagung, pisang dan sayuran.

“Unsur api, air, tanah dan udara semuanya ada, seperti hasil palawija dan buah – buahan yang dibawa merupakan bentuk syukur kami atas hasil alam,” sebutnya.

Ini imbuh Sri Eko, mempunyai makna yang penting dalam prosesi sehingga menjadikan para peserta yang terlibat dalam gelar do’a bersama kembali suci dalam satu hati dan jiwa.

“Menjadikan kami dalam satu tujuan membangun bangsa dan peradaban jaman untuk membawa kemuliaan sehingga menjadikan Borobudur sebagai mahakarya kitab kehidupan di dunia,” pungkasnya (*)

Berikan komentar