Koalisi Parpol Dinilai Tak Banyak Pengaruh di Pilgub Sumut

Nasional

– Indo Barometer merilis hasil survei mereka tentang elektabilitas dua pasangan calon di Pilgub Sumut 2018. Hasilnya, Djoss dipilih 37,8 persen mengalahkan Eramas dengan angka tipis 36,9 persen. 

Selain secara berpasangan, secara individual Djarot juga lebih dikenal oleh masyarakat sebagai calon gubernur dengan prosentase pemilih 94,4 persen mengalahkan Edy Rahmayadi 87,9 persen.

Hal yang sama juga terjadi pada calon wakil gubernur dimana Sihar Sitorus tingkat pengenalannya di tengah pemilih mencapai 74,6 persen mengalahkan Musa Rajekshah 70,5 persen. Hasil survei itu pun mengundang komentar pengamat.

Pengamat Politik Sumatera Utara Bakhrul Khair Amal mengatakan, meski jadi variabel, koalisi bukanlah penentu kemenangan. Bahkan dengan koalisi gemuk sekalipun, bukan jaminan sang calon bisa santai menanti kemenangan. 

“Harus dilihat bahwa koalisi partai pendukung itu hanya merupakan syarat pencalonan untuk dapat lolos mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun untuk menentukan pasangan tersebut diterima atau tidak oleh masyarakat, itu tidak bisa menjadi ukuran,” kata Bakhrul, Rabu (13/6) sore. 

Selama ini, dalam koalisi para kader partai diminta bekerja keras untuk memenangkan paslon. Di Pilgub Sumut pasangan DJOSS yang diusung PDIP dan PPP hanya selisih beberapa persen dari beberapa survei. 

Menurut dia, pemilih saat ini sudah lebih rasional. Lebih mengedepankan, program mana yang lebih layak untuk perubahan Sumut. “Selain itu faktor kedekatan pasangan calon secara pribadi dengan masyarakat itu tetap menjadi hal yang paling mempengaruhi pilihan masyarakat,” ujarnya.

Di tempat berbeda, Pengamat Politik Asal Universitas Sumatera Utara Dadang Darmawan mengungkapkan sengitnya pertarungan politik jelang pemilihan ditentukan oleh strategi yang dibangun masing-masing paslon.

Dia berpendapat, adu strategi yang dilakukan saat ini masih dalam tataran reproduksi isu untuk meningkatkan dan menjatuhkan elektabilitas masing-masing. 

“Di strategi, saya melihat Eramas ingin mengoptimalkan, momentum Ramadan bagi penguatan pemilih umat yang ada saat ini. Saya lihat kekuatan Eramas ada di situ. Sehingga mereka benar-benar turun untuk optimalisasi, menjemput potensi pemilih,” imbuhnya.

Sebaliknya, kubu Djoss berupaya untuk keluar dari jebakan. Mereka cenderung tidak pilih-pilih dan juga menggunakan pendekatan yang lebih islam. Misalnya, mereka berupaya mendekati, pemilihan di Pantai Timur. “Saya lihat juga, Djoss mulai mendekati ulama Islam untuk masuk ke kantong suara di Pantai Timur,” kata Dadang. 

Kedua Paslon menurut Dadang sama-sama punya peluang yang cukup besar. Namun dalam beberapa survei terakhir, Djoss mengalami tren positif. 

Dia juga mengkritisi soal koalisi antar parpol pengusung kedua paslon. Koalisi itu dinilai tidak punya pengaruh signifikan terhadap pendulangan suara. “Saya lihat kedua belah pihak, sama-sama tidak memanfaatkan jaringan koalisi secara optimal. Eramas lebih pada upaya ke tengah masyarakat dengan tim utama. Sedangkan Djoss langsung menggunakan relawan mempengaruhi suara di tingkat,” ujarnya. 

Dadang pun menilai, atmosfir yang terbangun dalam Pilgub kali ini seperti yang terjadi Pada Pilpres. “Tapi, kita juga melihat hal hal yang khas di Sumut, itu juga ikut mempengaruhinya. Kalau kita lihat, kesukuan, keagamaan, politik identitas masih kuat.  Ini mirip Pilgub DKI juga mewarnai jalannya pilkada di Sumut,” ungkapnya. 

Kemenangan paslon ditentukan pada momentum lebaran. Bagaimana kedua paslon memanfaatkan momentum satu syawal. “Yang juga penting, konsolidasi sampai tingkat akar rumput. Manajemen organisatoris menjadi sangat pentinh. Siapa tim yang lebih baik akan menang,” tandasnya. 

(pra/JPC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *