SUKOHARJO – Ikatan Kebangsaan dan Bela Negara (Ikabana) RI mendukung gelar Festival Omah Sawah sebagai kegiatan untuk menghargai dan mengangkat martabat petani yang diselenggarakan komunitas lintas seni budaya Soloraya di lapangan Desa Bakalan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (7/7/2018) malam.

Kegiatan yang menampilkan beberapa grup kesenian tradisional baik dari kalangan mahasiswa dan sanggar seni yang datang dari luar daerah ini, ternyata mampu menarik perhatian masyarakat sehingga berduyun – duyung ke lokasi.

Ketua Ikabana RI, Eko Sriyanto Galgendu dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya festival. Dengan digelarnya seni tradisi di lokasi tak jauh dari area persawahan diharapkan menambah motivasi penduduk desa yang mayoritas petani untuk terus tanpa henti mengolah tanah sawah hingga menghasilkan panen berkelanjutan.

“Festival Omah Sawah adalah representasi gubuk petani ditengah lahan pertanian yang biasa dimanfaatkan untuk menghalau burung maupun tempat istirahat para petani,” katanya.

Selain itu, kegiatan seni budaya juga bisa dijadikan sarana bagi generasi muda di desa untuk bersinergi dalam memberdayakan dunia pertanian secara modern.

“Membangun martabat dunia pertanian itu tak melulu harus turun kesawah menanam padi atau menanam yang lain. Tapi bisa melalui terobosan ilmu modern untuk meningkatkan kesejahteraan. Dan itu bisa dilakukan oleh generasi muda sekarang,” tandas Eko

Sesuai dengan temanya, Festival Omah Sawah. Penggunaan aksesoris dekorasi pun berbau pertanian khas pedesaan. Dari penerangan berupa obor bambu mengelilingi area pertunjukan, hingga puluhan ikat bawang merah, tebu, padi, dan jagung, menghias gapura pintu masuk lokasi.

Tak ketinggalan, ‘memedi sawah’ (figur manusia terbuat dari jerami untuk menghalau / menakut – nakuti burung), lengkap dengan topi khas petani yang biasa disebut ‘Caping’ juga terlihat di terpasang di kanan – kiri gapura.

Penggagas acara, Joko Ngadimin yang juga pengasuh Padepokan Sekar Jagad mengatakan, di Desa Bakalan, selain masih banyak lahan persawahan, juga dikenal sebagai daerah penghasil bawang merah. Bahkan petaninya sering diundang dalam kegiatan penyuluhan oleh Dinas Pertanian untuk membagikan ilmunya tentang bagaimana cara menanam bawang merah agar hasilnya bagus.

“Kesenian yang ditampilkan di acara ini melibatkan berbagai grup seperti grup mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Unisri Surakarta, Sanggar Meta Budaya serta Padepokan Sekar Jagad dengan menampilkan seni musik tradisional gejog lesung,”terangnya

Gejog lesung merupakan seni musik tradisional. Bunyi – bunyian yang di perdengarkan bersumber dari alat pemisah padi tradisonal berupa, kayu berongga ditengah mirip perahu yang biasa untuk wadah padi, kemudian dipukul – pukul mengikuti harmoni lantunan tembang jawa menggunakan ‘alu’ terbuat dari kayu panjang.

“Ini merupakan sebuah bentuk silahturahmi antara pelaku seni dengan masyarakat pertanian di desa, sebagai ungkapan untuk menghargai hasil jerih payahnya dalam mempertahankan tanah sawah dengan menekuni dunia pertanian,” tandas Joko.(*)

Berikan komentar