Fotografi: Merekam Tingkah Manusia

Sosialita

Jum’at, 22 September 2017 | 14:00 WIB


Human Interest – Penjual ikan di Sungai Digoel, Tanah Tinggi, Boven Digoel, Papua. Rully Kesuma.

DETIKLGMINEWS.CO, Jakarta – Anak-anak merupakan subjek menarik dalam membuat foto tingkah manusia atau human interest. Ini juga terjadi ketika saya menyusuri sungai Digul, Boven Digoel, Papua.

Dua anak kecil melambaikan tangannya di pinggir sungai  sambil mengangkat ikan gurami dan catfish hasil tangkapannya.  Tidak mau kehilangan pemandangan menarik, saya segera mengeluarkan kamera dengan lensa 70-200 mm yang sudah terpasang sebelumnya. Terpancar kegembiraan  di wajah mereka berharap ikannya dibeli.

Kenapa anak-anak bisa menjadi subjek menarik dalam membuat foto human interest? Ini karena, biasanya anak-anak lebih terbuka,  spontan , bahkan seringkali meminta dipotret saat kita melakukan aktivitas fotografi.  Ekspresi kegembiraan, kepolosan  mereka menjadikannya  subjek yang tidak membosankan untuk difoto.  


Foto-foto Human Interest memperlihatkan  nukilan-nukilan kehidupan yang nyata. Kebanyakan penikmat foto tertarik dan menaruh minat akan sesuatu yang terjadi pada anak kecil, remaja serta orang lanjut usia.

Baca juga:
Selfdies, Gaya Seniman Memprotes Selfie
Selfie: dari Duck Face ke Fish Gape, Anda Suka yang Mana?

Human Interest  merupakan salah satu genre dalam fotografi yang tidak pernah lekang oleh waktu, sejak ditemukannya alat fotografi sampai era digital.  Menjadikannya salah satu  kegiatan hunting foto yang sering dilakukan selain memotret lansekap . Subjek utamanya manusia.  Subjek sebaiknya dibuat berperan aktif dalam pemotretan, karena jika ia tidak berkenan , maka buyar lah mendapatkan foto yang keren.


Fotografer yang piawai dalam memotret human interest biasanya jeli dalam merekam suatu suasana yang  sering dilihat tetapi tidak begitu diperhatikan orang lain.   Dengan kepekaannya ia bisa merekam momen,  ekspresi, gesture tubuh , aktivitas  subjek yang terjadi dalam waktu relatif singkat.  Foto yang baik jika ia bisa menggugah perasaan yang melihatnya.  Menggambarkan penderitaan manusia, keputus-asaan, kesedihan, kegembiraan, juga harapan dalam subjeknya .

Fotografer harus dapat menangkap ekspresi subjek yang sesungguhnya tanpa diketahuinya , mengamati tetapi tidak mengatur. Dibutuhkan kesabaran untuk mendapatkan moment yang diinginkan.  Bukan sekedar membekukan momen yang hanya terjadi dalam waktu yang singkat , tapi juga penting untuk merencanakan atau membayangkan citra apa yang ingin dimunculkan saat menekan tombol kamera.

RULLY KESUMA

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *